TenggelamnyaKapal Van Der Wijck merupakan film yang bergenre kisah cinta romantis pada tahun 1930.. Film ini di produksi oleh Soraya Intercine Films dengan pemain-pemain ternama seperti Pevita Pearce, Herjunot Ali, Reza Rahadian. Ketiga tokoh tersebut memainkan drama kisah cinta segitiga. Temanya tentang kesukuan di daerah Minangkabau yang kental. ReviewFilm dan Drama Jumat, 06 Maret 2015. Review Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Film yang disutradai oleh Sunil Soraya ini mendapatkan respons positif dari banyak kalangan. Film yang angkat dari sebuah novel laris pada zamannya itu menarik perhatian sutradara kebangsaan Indonesia ini untuk menjadikannya sebuah film layar lebar 7 "Lawan saya adalah hati saya sendiri."-Hayati 8. "Tak baik hidup yang mulia ini terkurung semata-mata hanya memikirkan perempuan." -Muluk 9. "Cinta bukan mengajarkan kita untuk menjadi lemah, MisteriNama Marlena yang Dikaitkan dengan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck . Eksplorasi pencarian bangkai Kapal Van der Wijck di perairan pantura dihentikan sementara. Eksplorasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim itu terkendala cuaca. Selengkapnya Berikutini lirik lagu Sumpah dan Cinta Matiku - Nidji, Soundtrack film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang viral di TikTok. Jumat, 5 Agustus 2022 10:48 WIB. Editor: Mega Satriani Purwaningtyas. lihat foto. Review acer Nitro 5 (AN515-57), Murah Punya Prosesor Core i9 & Layar QHD. Filmini secara keseluruhan bagus banget jadi kejelekannya termaafkan dan bahkan hampir tidak disadari. Salah satu saran yang mungkin bisa lebih membangun hanya kemampuan menampilkan efek visual Kapal van der Wijck. Sepertinya di extended version dibuat lebih gelap dan lebih bagus meskipun tetep keliatan seperti tempelan. Hahhaa. . Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Judul film Tenggelamnya kapal van der wijckSutradara Sunil SorayaProduser Ram Soraya Sonil Soraya Genre Romantis, Drama Tanggal rilis 19 Desember 2013Pemain Pevita Pearce, Harjunot ali, Reza rahadian, Randy nidji, Arzetti bilbina, Kevin andrean, Jajang Niniek L Karim, Musra dahrizal katik rajo, MangkutoFilm tenggelamnya kapal van der wijck tahun 1930 yang di sutradarai oleh Sunil Soraya, di tulis oleh buya hamka. Film ini menceritakan tentang seorang yatim piatu yang bernama zainudin yang dari kecil telah di tinggalkan ayahnya yang berdarah minag, dan ibunya yang berdarah itu di makasar pada tahun 1930 zainudin untuk pertamakalinya berpamitan pada pegasuhnya hendak merantau ke kampung halaman ayahnya di padang sumatra barat. Tibalah zainudin di kota batipuh sesampainya di sana dia begitu gembira. Namun lama kelamaan kebahagiaan nya hilang karna dia masih di anggap orang dia pun jenuh hidup di batipuh dan saat itu iya bertemu dengan seseorang yang bernama hayati, seorang gadis minag yang membuat hatinya gelisah dan menjadikan alasa nya untuk tetap hidup di sana. Dan berawal dari surat menyurat merekapun menjadi semakin dekat dan akhirnya saling jatuh cinta. Kabar kedekatan mereka pun tersebar luas dan menjadi bahan gunjingan semua warg, karna keluarga hayati merupakan keturunan terpandang. Adat istiadat megatakan bahwa zainudin bukanlah orang minang kabaw, lalu zainudin di panggil oleh mamak hayati dengan alasan demi keselamatan hayati, mamak hayati menyuruh zainudin meninggalkan batipuh dan zainudin pun pindah ke padang, dengan berat hati zainudin dan hayati berjanji untuk saling setia dan selalu megirim surat. Namun ada pihak ke 3 yaitu azis kak kodijah yang juga tertarik dengan kecantikan zainudin melamar hayati tapi sayang di tolak oleh hayati karna mereka sama-sama miskin, setelah penolakan itu zainudin pun jatuh sakit selama 2 bulan. Atas bantua muluk zainudin pun dapat bangkit dari peyakitnya dan merekapun merantau ke jakarta dan zainudin pun menjadi penulis terkenal. Sedangkan azis suka berjudi dan main perempuan dan kehidupan perekonomian mereka makin memprihatinkan dan terlilit banyak hutang dan Hayati pun diusir dari kontrakan dan mereka terpaksa menumpang di rumah Zainuddin..kemudian diperoleh kabar bahwa Aziz telah menceraikan hayati melalui surat, Aziz meminta supaya hayati hidup bersama zainudin dan kemudian datang pula berita dari sebuah surat kabar bahwa aziz bunuh diri meminum obat tidur di sebuah hotel di Banyuwangi. Dan zainudin pun menyuruh hayati untuk pulang kampung namun allah berkehendak lain kapal yang di tumpangi hayati tengelam dan hayati pun meninggal di dalam dekapan zainudin. Lihat Ruang Kelas Selengkapnya Kalau nggak direkomen ama Agam, kayaknya saya nggak akan punya niatan untuk nonton film yang ternyata bagus ini. Film ini berlatar tahun 1930-an. Alkisah seorang pemuda bernama Zainuddin Herjunot Ali. Ia terlahir dari ayah yang berdarah Minang dan ibu berdarah Makassar. Sepanjang hidupnya Zainuddin besar di Makassar. Sepeninggal ayah dan ibunya, Zainuddin ingin melihat tanah kelahiran ayahnya di Batipuh, Sumatera Barat. Keluarga Zainuddin di Makassar sempat khawatir kalau Zainuddin tidak akan diterima baik oleh keluarga ayahnya di sana. Karena menurut adat Minang yang berpatok pada garis keturunan dari ibu, maka Zainuddin adalah orang Makassar, bukan lagi orang Zainuddin bersikeras ingin melihat ranah Minang karena ingin sekalian belajar agama di sana. Ternyata benar, ia kurang diterima baik oleh orang-orang di kampung ayahnya. Ia tidak dianggap sebagai orang Minang. Ia kerap dikucilkan dan tak punya teman. Namun Zainuddin dapat menahan itu semua karena hatinya telah terpaut dengan Hayati Pevita Pearce sang kembang desa di Batipuh. Cintanya bersambut dan mereka rajin berkirim surat. Namun lagi-lagi darah Minang di Zainuddin tidak dianggap. Sehingga paman Hayati melarang kisah cinta mereka dan mengusir Zainuddin dari Batipuh. Hayati berjanji setia menunggu Zainuddin. Namun kesetiaan Hayati diuji ketika ia dijodohkan dengan Aziz Reza Rahadian yang tampan, kaya, dan berdarah Minang asli… Yang saya suka dari film ini+ Film ini gambarnya baguuuuuuuuuus! Jujur, saya tuh awalnya pesimis waktu dulu tahu film ini disutradarai oleh salah satu geng bos-bos sinetron, yakni Sunil Soraya. Tapi ternyata filmnya baguuuuuuuus.+ Bisa dibilang setengah awal film ini berdialog dengan bahasa Minang. Dan saya suka hal itu karena jadi benar-benar terasa konflik kedaerahannya.+ Ada yang bilang dialognya sinetron banget. Justru menurut saya di tahun segitu, memang begitulah cara orang berdialog. Dan sepertinya film ini menuruti dialog yang ada di buku aslinya karya sastrawan Minang, Buya Hamka. Karya sastra lama dari Minang memang banyak pakai bahasa Melayu tinggi. + Oiya film ini diangkat dari buku berjudul sama. Penulisnya orang Minang, tapi kritik tentang budaya Minang bertebaran di buku ini. Saya sebagai perempuan berdarah setengah Minang bisa mengangguk-angguk setuju dengan kritik yang disampaikan. + Film ini jalan ceritanya sedih. Jadi kalau kalian baru putus, ditinggal nikah, ditolak cinta karena miskin, jangan nonton film ini, ya.+ Salut untuk beberapa adegan yang diperankan secara gemilang oleh Herjunot. Apalagi adegan ketika dia marahin Hayati. Rentetan dialognya berhasil bikin saya ngebatin mampus luh, Hayati!’ Sampai sekarang saya masih suka cari cuplikan adegan itu di Youtube untuk saya tonton berulang kali.+ Untuk beberapa adegan set dan propertinya bagus banget. Ada beberapa mobil kuno yang masih bagus pula kondisinya buat dipakai balapan. Jarang ada film Indonesia yang mau invest dan repot nyari properti sampai segitunya. Tapi bisa juga mobil itu koleksi sang pemilik film sih Yang saya kurang suka dari film ini– Duh, Pevita aktingnya nggak pas banget deh di film ini. Dia terlihat terlalu bule untuk jadi perempuan Minang. Udah gitu aktingnya biasa aja. Padahal dia banyak memegang peran penting agar suatu adegan bisa kerasa sedihnya. Tapi ya….gitu di akhir-akhir film pas dia melek lagi dari setelah dari kapal van der Wijck malah kerasa Eh kok melek lagi? Mau main cilukba ya kamu?’– Untuk pertama kalinya saya melihat akting Reza Rahadian biasa aja dan nggak total. Tapi saya masih ber-positive thinking kalau dia begitu karena nggak pengen outshine Herjunot sang aktor utama. – Figurannya nggak bagus– Meski Herjunot terlihat ganteng banget pake jas di film ini, tapi model jasnya itu nggak sesuai dengan eranya. Setahu saya jas di era itu modelnya panjang sampai setengah paha. Bukan jas pas body model zaman sekarang. Harusnya Junot pakai jasnya kayak Reza gitu. Jas panjang dan celananya agak lurus gombrong, bukan skinny pants. – Baju-bajunya Hayati juga salah era. Harusnya 1930 itu jazz era. Bajunya itu slim dress dengan minim motif. Sedangkan yang dipakai Hayati kebanyakan baju keliatan ketek dengan motif retro tahun 1970an. Baju era 1930-an Baju yang dipakai Hayati -__- Daaaaaan di era itu ngetrendnya rambut pendek kelihatan tengkuk. Sedangkan Hayati rambutnya lurus digerai yang entah gimana malah membuat ia terlihat lusuh di era yang orang-orangnya pada klimis itu. – Kayaknya film ini bayar mahal Nidji untuk bikin original soundtrack OST. Sayangnya menurut saya OST-nya yang modern terdengar nggak matching dengan film nuansanya jadul. Mana diulang-ulang mulu chorusnya di film ini. Malah jadi ganggu dan jomplang. Padahal kalau OST itu dibuat versi instrumental biola terus di-insert di film aja cukup sih.– Posternya jelek. Rate 4 out of 5Saya nonton film ini di Netflix Ini trailernya…. A Review on Tenggelamnya Kapal van der Wijck Orientation tells the background information of the movie Tenggelamnya Kapal Vtm der Wijck Social Function The Sinking of the Van der Wijck To critique artworks is a 2013 Indonesian romantic films, novels, songs, drama film directed by Sunil Soraya TV shows or movies and written by Imam Tantowi and for a public audience Dhony Dirgantoro. The film casts Pevita Pearce, Herjunot Ali and Reza Rahadian as the main leads. The movie is based on Hamka's novel, Tenggelamnya Kapal van der Wijck 1939, and it was released at theaters on 19 December 2013. The film takes the theme of love and culturalr conflict in 1930s. Social function To critique artworks films, novels, songs, TV shows or movies for a public audience. Interpretative recount tells the plot/ synopsis/summary of the story The story begins when Zainuddin Herjunot Ali, a young man of Minang descent who has lived and grown up in Makassar, goes to Batipuh, Tanah Datar, West Sumatra, to visit his father's birthplace and deepen his spirituality. Zainuddin's arrival is not welcomed by the 4. villagers due to his family background. Zainuddin's father who came from Minang married his mother who came from Bugis, Makassar. Minang people still held to the maternal lineage firmly. However, Zainuddin determinedly decides to stay in Batipuh and he is more determined after meeting .. a beautiful girl named Hayati Pevita Pearce. This triggers violent obstacles from the villagers and Zainuddin is forced to leave Batipuh. Before leaving, Zainuddin and Hayati promise to love each other and Hayati promises to wait for Zainudin. The problem becomes worse when Hayati is proposed to by a wealthy man of pure Minang descent, Aziz Reza Rahadian. Forced by her family, Hayati accepts the proposal, breaking her promise to Zainuddin. Feeling broken-hearted, Zainuddin leaves Minang and ventures to Java Island. With his talent as a writer, Zainuddin gains fame as well as fortune. Meanwhile, destiny makes Zainudin and Hayati meet once again. At a book-launching, Zainuddin meets Hayati as Aziz's wife. This time, the wheel of fortune turns around. Aziz loses his money and properties due to gambling. Aziz and Hayati come to Zainuddin's big house to borrow some money and ask for a temporary shelter. Zainudin grants the request. Feeling ashamed, Aziz commits suicide and gives up on Hayati. Although Zainudin loves Hayati, he rejects her because Hayati had broken their promise. Zainudin sends her back to Padang on a royal ship, the Vtm der Wijck. Unfortunately, on the way to Padang, the ship sinks together with Hayati, leaving Zainuddin with the pain of Hayati's death. Zainudin continues living in deep remorse. Language elements The simple present tense Compound sentences Complex sentences compound complex sentences Evaluation states the judgment, opinions about the director,performances of the main actors, the plot, the theme, the dialogues and comparison with another similar artworks. It may consist of more than one paragraph. Unlike the novel, the screen of Tenggelamnya Kapal Vtm der fails to dig deeper on the morals. The film merely expresses a universal lesson. It's a story of a man who to achieve success from his failure and sorrow. In the novel, Buya Hamka criticised a lot about the Minang customs and tradition. The film lacks of criticism about Minang old customs and tradition. Despite the shallowness Minang customs in the movie, Herjunot Ali succeeded in play role of Zainudin. His performance as charming as that in Di Bawah Lindungan Ka'bah, a similar theme film by the same author. Evaluative summation states final opinions about, recommendation and appraisal or punch line of the movie OveraLl, Tenggelamnya Kapaz l Van summation der Wijck is an excellent Indonesian movie portrays the scenic panorama of Minang Land. The sweet original soundtrack from Nidji, such as "Nelangsa" and "Terusir", make the film unforgettable. This is a worthwhile film to see. Recommendation to see the film Appraisal for the film Complete these sentences with information you get from the previous review in pairs. The genre of the film is .... Cast & crewUser reviews2013TV-142h 44mAdapted from a classic novel with the same title, the movie tells a love story between Zainuddin, Hayati, and Aziz. With the difference in social background lead Zainuddin and Hayati's true ... Read allAdapted from a classic novel with the same title, the movie tells a love story between Zainuddin, Hayati, and Aziz. With the difference in social background lead Zainuddin and Hayati's true love to a tragedy on sailing Van Der Wijck from a classic novel with the same title, the movie tells a love story between Zainuddin, Hayati, and Aziz. With the difference in social background lead Zainuddin and Hayati's true love to a tragedy on sailing Van Der Wijck production, box office & company infoMore like thisReview This is MasterpieceThis story tell the difference between culture and religions knowledge, does the culture always be a priority? This story is to tell how Adat Minangkabau is conducted within the ethnic. Minang is the fraction of the Malay ethnic besides Jawa and else. Zainuddin sentences for Hayati is Masterpiece. It should be full rated because of the sentences 6, 2020Contribute to this pageSuggest an edit or add missing contentBy what name was The Sinking of Van Der Wijck 2013 officially released in Canada in English?AnswerEdit pageMore to exploreRecently viewedYou have no recently viewed pages Directed by Sunil Soraya Produced by Sunil Soraya, Ram Soraya Written by Imam Tantowi, Donny Dhirgantoro, Riheam Junianti, Sunil Soraya screenplay, Buya Hamka novel, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Starring Herjunot Ali, Pevita Pearce, Reza Rahadian, Randy Nidji, Gesya Shandy, Arzetti Bilbina, Kevin Andrean, Jajang C Noer, Niniek L. Karim, Femmy Prety, Dewi Agustin, Rangga Djoned, Fanny Bauty Music by Stevesmith Music Production Cinematography by Yudi Datau Editing by Sastha Sunu Studio Soraya Intercine Films Running time 163 minutes Country Indonesia Language Indonesian Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck is one of Indonesian movie released in 2013 on the theme of love and cultural conflict in 1930’s. The story begins when a young man of Minang descent who lives and grows in Makassar, Zainuddin Herjunot Ali go to Batipuh, Tanah Datar, West Sumatra, in order to know the birthplace of his father and deepen his religious knowledge. Zainuddin’s arrival was not well received by the villagers because of the history of the Zainuddin’s descendant─whose father comes from Minang marry his mother who comes from Bugis. At that time, the structure of Minang people manages the ancestry from maternal lineage. However, Zainuddin strengthens his heart to remain in Batipuh, especially when he met a beautiful girl named Hayati Pevita Pearce. After that, they fall in love and Zainuddin’s descendant was again being the obstacle of their romance. Zainuddin was forced to leave Batipuh because their relationship deemed unfit. However, Zainuddin and Hayati promised to love each other. The problems get bigger when Hayati proposed by a wealthy man of pure Minang descent, Aziz Reza Rahadian. Forced by her family, Hayati accepts the proposal and breaks her relationship with Zainuddin. Zainuddin chooses to leave Minang island and ventured to Java island after his heart had been broken by Hayati. With his talent as a writer, Zainuddin managed to gain fame as well as material happiness. Meanwhile, the destiny between Zainuddin and Hayati did not necessarily stop. Inadvertently, Zainuddin again met with Hayati who has now become the wife of Aziz. As might be expected, their turbulent love then started burning again. This movie is remarkable because each part of the story is described so smoothly. The characters of this movie successfully deliver a deep emotion to the audience. As usual, Reza Rahadian plays impeccably. When Herjunot Ali and Pearce Pevita still seen trying hard to turn their character, Reza Rahadian appears so easy in the figure of Aziz. Pevita Pearce also successfully demonstrated with good acting skills. Although the character of Hayati still feels not so ripe, Pevita capable of displaying the figure of the girl who lived in the 1930’s with the problem of conflict between tradition and her romance with a performance that will be able heartbreaking. However, the strongest performance in Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck clearly comes from Herjunot Ali. Herjunot managed to give a pretty deep emotional touch to his character, reciting poetic dialogues given to his character well and makes the character Zainuddin was so easy to get the sympathy from the audience. Other acting appearances were quite a surprise present from Randy Nidji who recently made his acting debut through, but managed to give the appearance that is so convincing. I recommend this movie because of its epic classy romance which is so hard to find in Indonesian’s movie in recent years. I give four stars to this movie. You have to watch this! Tenggelamnya Kapal Van Der WijckPERHATIAN!Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini. Menjadi salah satu film terbaik yang lahir di ranah perfilman Indonesia, film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ memang ramai diperbincangkan. Menjadi menarik dengan mengangkat persoalan budaya ditengah masyarakat, dimana budaya menjadi bagian penting untuk menutur tata laku individu yang ada. Diadaptasi dari novel karya Buya Hamka dengan judul yang sama, film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ disutradarai oleh Sunil Soraya dan diproduseri Ram Soraya. Film drama romantis tahun 2013 ini juga dilakoni oleh aktor dan aktris kawakan Indonesia. Dirilis tanggal 19 Desember 2013, kabarnya proses produksi film ini menghabiskan waktu 5 tahun. Penggarapan film ini bukan main rupanya, tak heran memang jika film ini banyak di perbincangkan di masyarakat. Makin penasaran kan bagian menarik apa lagi yang bisa ditemukan dari film ini? Sinopsis Berlatar tahun 1930, menceritakan kisah cinta muda-mudi yang terhalang oleh adat istiadat. Berawal dari seorang pemuda bernama Zainuddin Herjunot Ali yang terusir dari tanah kelahiran sang ayah di Batipuh, Padang dengan Hayati Pevita Pearce gadis murni keturunan Minang yang cantik dan santun membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Ayah keturunan Minang dan Ibu keturunan Bugis, membuat Zainuddin dikucilkan di tanah Minang. Cintanya kandas seiring dengan lamarannya yang ditolak oleh keluarga Hayati karena statusnya yang dianggap tak bersuku oleh masyarakat Minang yang matrilineal. Hayati dijodohkan dengan Aziz Reza Rahadian yang memilki status yang sama-sama keturunan bangsawan. Adat Minang menuntut Hayati agar selalu tunduk dan patuh, menikah dengan Aziz dan menjaga nama baik keluarga. Kecewa, Zainuddin sempat hidup terpuruk berlarut dalam kesedihan beruntung sahabatnya Muluk Randy Danistha selalu menemani hingga ia bangkit. Memilih bertolak ke Batavia, Zainuddin berhasil membuka lembar baru menapaki karir yang sukses. Menjadi penulis terkenal dengan karya-karya masyhur, ia dipercaya mengurus perusahaan di Surabaya. Takdir memang punya cerita unik, Zainuddin dan Hayati dipertemukan kembali dalam sebuah Opera. Karir Aziz sebagai pebisnis sukses lah yang membawa ia dan sang istri Hayati datang dan tinggal di Surabaya. Namun rupanya hal ini tak berlangsung lama, bisnis Aziz hancur. Meninggalkan surat cerai untuk Hayati, rupanya Aziz memberikan surat berbeda pada Zainuddin agar ia mau menerima Hayati dan menjadikan Hayati miliknya. Masih terikat sakit hati di masa lalu, Zainuddin memilih mengirim Hayati pulang ke kampung halamannya dengan kapal Van Der Wijck. Menitipkan sepucuk surat kepada Muluk untuk Zainuddin, Hayati pun pergi. Naas, kapal Van Der Wijck yang membawa Hayati pulang tenggelam ditengah perjalanan. Mengetahui ternyata Hayati masih dan selalu mencintainya, Zainuddin bergegas menyusul Hayati. Terlambat, Hayati meninggalkan dirinya dan penyesalannya untuk selama-lamanya. Totalitas Produksi Film yang Patut Diapresiasi * Menjadi film termahal yang di produksi oleh Soraya Intercine Films, projek film ini sudah berlangsung dari tahun 2008. Dari mulai observasi, pra-produksi, penulisan skenario hingga pemilihan pemain yang berjalan 5 tahun membuat Sunil sebagai Sutradara sempat ragu fimnya ini akan rampung, mengingat prosesnya yang begitu voucher streaming Netflix, Disney+, Prime Video, Viu, dll murah di Lazada Riset, pengambilan gambar serta pembuatan latar film seperti tahun 1930 mengikuti novelnya membuat biaya produksi cukup tinggi. Begitu juga dengan pembuatan replika kapal Van Der Wijck yang dibuat ulang oleh produsennya dan dipesan langsung dari Belanda. Belum lagi properti lainnya yang turut di setting seperti suasana tahun 1930, mobil, kostum, sampai figuran orang asing yang mendukung latar cerita. Bahkan untuk kostumnya sendiri dibuat dan dirancang oleh Samuel Wattimena seluruhnya. Proses penulisan skenario ditulis selama 2 tahun dengan revisi beberapa kali oleh sang sutradara. Ini karena Sulin sebagai sutradara ingin filmnya dapat menyampaikan semangat dan pesan yang sama seperti yang disampaikan Hamka dalam Novel. Memiliki durasi 2 jam 49 menit, film ini memakan wakru 6 bulan untuk proses syuting dengan total 300 adegan.

review film tenggelamnya kapal van der wijck